Sunday, 9 July 2017

60. RACAU: karena

karena kau tak bisa memanajemen waktu
karena kau tak bisa mengendalikan emosimu
karena kau memilih capslock
karena kau memilih berteriak
karena kau memilih bekerja daripada bicara dengannya
karena kau gagal diam untuk beberapa waktu saja
karena kau terlalu fokus dan melupakan hal-hal lainnya
karena kau bodoh saat kau pikir kau pintar
karena kau egois
karena kau pikir pikiran dapat dibagi semudah itu
karena kau pikir jiwa bisa bicara seringan itu
karena kau pikir kau logis dan yang lain tidak
karena kau pikir dia semestinya paham
karena kau percaya dia bisa
karena kau percaya dia penyelamat
karena kau percaya imajinasi mu

karena kau

karena kau sendiri.
karena
kau
sendiri.

Belajar lagi sana, laki-laki tolol!

Tapi gue orangnya emang gitu... terus harus gimana dong...
Mantap. Semoga abadi bersama kesendirian.

59. RACAU: almost a year

Aku cukup lama berpikir sebelum menulis apa pun di sini. Setelah lama berpikir, ternyata tak terpikir apa-apa. Maka biarkan saja jari-jari ini bekerja tanpa filter. Nanti ketika racau ini selesai, akan ku cek lagi dan revisi pelan-pelan.

Begitu niatnya.

Kembali pada mereka seharusnya tidak jadi jawaban karena aku ingin jadi lebih baik. Memang seharusnya yang jadi alasan adalah aku, bukan sosok lain.

Anggap saja aku lemah dan butuh inspirasi.

Tidak bisa menyalahkan masa lalu. Kenapa aku dibesarkan begini - kenapa aku dulu membiasakan diri begitu - kenapa ku tidak ke sana malah sini - kenapa aku pilih yang merah bukan yang biru. Semua itu membawa diri ini ke titik ini.

Aku ada karena kebodohan dan kesalahan-kesalahanku.

"Tugas sudah selesai. Kalian sudah hadir di titik berikutnya."

Depresi membuat ku terus berpikir negatif dan memang tidak seharusnya ku limpahkan ini pada orang lain. Depresi membuat ku berpikir buruk tentang - hampir - semua orang. Depresi membuat ku berpikir tentang menang kalah. Depresi membuat ku berpikir tentang depresi yang membuat ku berpikir. Depresi membuat ku berpikir. Berpikir. Berpikir. Berpikir.

Tanpa henti.
Tanpa
henti.

Dan karena ini,
orang butuh meditasi.

Atau setidaknya izinkan ganja untuk kepentingan medis?
Ingat, penjara bukan solusi.

Aku berterima kasih pada pekerjaan - semata karena telah menyisakan makna.
Aku berterima kasih pada Bukowski - karena mengembalikan ku pada tujuan.

Walau tentu aku menyesal. Walau juga aku belajar.

Satu sumber stres sudah hilang dari mu. Terbang dan bersinarlah seperti seharusnya dirimu.
Sehat, sehat.
Sehat, sehat.


Friday, 23 September 2016

58. RACAU: tentang yang ditentang

young lex, awkarin, anya geraldine
juga orang-orang muda lain
yang berkarya juga dicerca
yang berbuat lalu dihina
----mereka sadar konsekuensi dan tetap melakukannya
----mereka adalah keberanian yang tidak pernah engkau punya
----kau tumpahkan kegagalan dan kepengecutanmu dalam kolom komentar
----entah apa yang kau harapkan, mengganggu kepala mereka?
++++++oh percuma, percuma
++++++dalam semesta mereka engkau tak pernah ada
++++++ada jiwa-jiwa dari baja yang coba kau gelitik dengan ilalang
++++++oh sudah, sudahlah
----orangtua berperang melawan arus informasi
----sedang kemanusiaan dan teknologi tak sudi menanti
----jangan marah pada pahlawan anak-anakmu
----marahlah pada dirimu yang gagal jadi pahlawan yang mereka mau
jelas tidak sepenuhnya salahmu
caramu belajar, jalanmu bertumbuh
setiap hal kecil berpengaruh
apakah semua salah Orde Baru?

Mungkin Gibran benar sedari awal: anakmu bukan anakmu.